Demam K-POP dan Drakor menyebabkan banyak masyarakat di dunia memilih untuk belajar di berbagai tempat kursus bahasa Korea, hal ini dilakukan mereka untuk lebih mengenal tentang budaya dan juga bahasa Korea. Miskin merupakan bahasa asing dan memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, namun tidak sedikit orang yang rela mengorbankan waktu dan hartanya untuk mempelajari bahasa ini.

Ada beberapa hal menarik mengenai bahasa Korea, mulai dari sejarah hingga tata bahasa bahasa itu sendiri seperti:

Bahasa Korea Utara dan Selatan berbeda

Perang membuat sebuah negara yang damai terpisah menjadi dua negara, hal ini sudah diketahui banyak orang. Tentunya ada banyak perbedaan yang dimiliki oleh dua negara sama namun terpisah dan dipimpin oleh penguasa yang berbeda ini, mulai dari budaya, adat istiadat, kebiasaan, dan juga bahasanya.

Korea Utara dan Korea Selatan telah melakukan evolusi untuk berbagai hal, seperti dalam bahasa. Kosakata, pengucapan, dan juga aturan tata bahasa di negara ini tentunya berbeda satu sama lain.

Sistem Honorifik yang sangat berperan dalam komunikasi

Di dalam bahasa Korea, sistem honorifik menjadi sangat penting dalam kegiatan berkomunikasi. Honorifik yakni sebuah pernyataan yang sopan nan halus yang biasanya digunakan untuk menunjukan rasa hormat kepada orang yang diajak bicara atau tengah dibicarakan, tentunya cara menyebut orang yang lebih tua dengan teman sebaya berbeda satu dengan lainnya.

Sistem Honorifik bahasa Korea ini sangatlah kompleks, orang yang mempelajari bahasa Hangul di tempat kursus online murah mungkin tahu mengenai hal ini. Dalam Honorifik, penggunaan kosakata dan kata kerja ini bisa berbeda tergantung dari siapa yang tengah diajak komunikasi.

Ada tiga tingkatan paling utama dalam kesopanan ketika berbahasa Korea, yakni berakhiran ‘nida’ (paling formal atau paling sopan), akhiran ‘a/o/yo’ (sopan dan sedikit formal), dan tanpa akhiran (biasanya diucapkan dalam percakapan informal, seperti percakapan santai atau akrab).

Ada peringatan hari Hangul

Pada setiap tanggal 15 Januari orang Korea Utara melakukan peringatan hari Hangul atau hari alfabet Korea, hari tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk masyarakat Korea. Sedangkan di Korea Selatan, meski sempat berubah-ubah tanggal penetapannya, namun hari Hangul diperingati setiap tanggal 9 Oktober.

Di tahun 1931 peringatan hari hangul jatuh di tanggal 29 Oktober sesuai dengan kalender Gregorian, namun 3 tahun setelahnya peringatan tersebut diubah menjadi tanggal 28 Oktober (disesuaikan dengan tanggal yang sama pada kalender Julian).

Kemudian di tahun 1940, cari Hangul diperingati pada tanggal 9 Oktober sesuai dengan kalender Julian (didasarkan pada salinan asli Hunmin Jeongeum Haerye).

S-O-P merupakan pola kalimat sederhananya

Ketika mengikuti kursus bahasa Korea, peserta akan dikenalkan dengan beragam kalimat yang cukup sulit karena keterbatasan bahasa. Seperti misalnya rumus dalam membuat kalimat, pola sederhana sebuah kalimat dalam bahasa Indonesia terdiri dari SPO (Subjek Predikat Objek) namun berbeda dengan bahasa Korea yang menggunakan pola SOP (Subjek Objek Predikat). Pola kalimat sederhana ini memang terbilang membingungkan untuk orang Indonesia, namun jika sudah terbiasa maka pola tersebut nantinya sudah tidak asing lagi.

Dalam bahasa Korea terkadang percakapan tidak menggunakan subjek ataupun objek, yang penting konteksnya sudah jelas. Sebagian kasus bahkan kata kerja sangat berperan penting dalam sebuah kalimat, jadi memang terbilang agak rumit. Meski sangat berbeda dengan tata bahasa Mandarin, sekitar 60% kosakata Korea merupakan kosakata yang berasal dari bahasa Mandarin, sedangkan 30% murni bahasa Korea dan 5 persennya berasal dari bahasa lain.

Hangul baru dikenal permulaan abad ke-20

Penggemar serba serbi Korea termasuk yang mengikuti kursus online murah bahasa Korea tentunya sudah tidak asing lagi dengan Hangul, sebuah alfabet yang digunakan untuk penulisan bahasa Korea. Jika bahasa lain merupakan bahasa turunan dari nenek moyang yang tidak jelas siapa penciptanya, namun berbeda dengan bahasa Hangul yang secara gamblang diketahui siapa pencipta dan pembuatnya pertama kali.

Hangul memiliki 24 huruf yang terdiri dari 14 huruf konsonan dan 10 huruf vokal, huruf-huruf tersebut diciptakan oleh raja Sejong Agung (1397 – 1450) di tahun 1443 (Dinasti Joseon). Meski begitu, istilah Hangul sendiri baru dikenal oleh masyarakatnya di abad ke-20 karena sebelumnya masyarakat Korea menulis dengan aksara Tionghoa (Hanja).

Memiliki sistem hitungan yang rumit

Jika dalam bahasa Indonesia untuk menghitung jumlah besar dan kecil menggunakan kosakata yang sama, namun dalam bahasa Korea penghitungan jumlah kecil dan besar menggunakan kosakata yang berbeda. Hitungan dengan menggunakan kosakata Korea asli biasanya digunakan untuk mengatakan umur, menghitung benda, atau mengekspresikan jam saat memberi tahu waktu.

Sedangkan sistem hitung lainnya berasal dari Cina, biasanya digunakan untuk mengungkapkan sebuah risalah saat menceritakan waktu dan melakukan pengukuran (jarak, uang, dan tanggal).

Bagi masyarakat yang tertarik dengan bahasa Korea, ada banyak tempat kursus bahasa Korea yang bisa dijadikan tempat untuk belajar bahasa Korea. Bukan hanya menyediakan kursus bahasanya saja, namun di beberapa tempat kursus juga menyediakan pelajaran tentang budaya negara Korea (umumnya Korea Selatan)